1 PETRUS 3:9

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.

PRAKTEK BOILER

Praktek Boiler atau Ketel Uap di Laboratorium Teknik Energi adalah untuk menguji performansi boiler dengan melakukan operasi dan pengukuran pemakaian bahan bakar solar dan kapasitas uap, termasuk melakukan pengukuran kualitas uap. Selain itu, praktek sistem energi yang berkaitan dengan uap dan energi.

Hari Kamis, 13 Januari 2011 kelas EN-5B sedang melakukan analisis performansi ketel uap. Jenis ketel uap yang diuji adalah Oil Fired Boiler buatan Cusson England, dengan kemampuan kapasitas produksi uap 450 kg pada tekanan 10 barg.

Dari hasil analisa dapat diperoleh sbb.:

- Kualitas uap : 0,9
- Kapasitas uap : 300 kg/jam
- Tekanan uap : 7 barabs
- Konsumsi bahan bakar solar : 35 Liter/jam.
Jadi dapat dihitung efisiensi Ketel.

Dosen Pengampu
Ir. Rufinus Nainggolan
NIP: 19631121 199003 1 001.

PLTA/MIKROHIDRO

Keuntungan-keuntungan PLTA sebagai berikut :
(1) Biaya operasi PLTA/Mikrohidro sangat rendah
(2) Jumlah pekerja dan insinyur yang diperlukan sedikit
(3) Tidak ada asap, abu, limbah, dsb; maka PLTA/Mikrohidro adalah bersih lingkungan
(4) Biaya maintenance juga murah
(5) PLTA/Mikrohidro dapat distart secara cepat, demikian pembebanan dapat dinaikkan atau diturunkan secara cepat
(6) Perubahan pembebanan tanpa mengurangi efisiensi secara signifikan
(7)Efisiensi tidak berkurang dengan perubahan waktu dan juga dengan setelah maintenance
(8) Tidak perlu bahan bakar, tidak ada biaya untuk pengangkutan, penumpukan,dan pembuangan limbah
(9) Tidak ada kerugian stand-by
(10) Lingkungan dapat dikembangkan.

Kerugian-kerugian PLTA/Mikrohidro sbb.:
(1) Biaya awal PLTA/Mikrohidro termasuk biaya bendungan sangat tinggi
(2) Ketersediaan (availability) produksi energi kurang kurang reliable, karena daya yang dihasilkan bergantung kepada jumlah air dan jumlah turun hujan.
(3) Tempat PLTA/Mikrohidro hanya tersedia pada tempat-tempat tertentu dan biasanya jauh dari pusat beban, sehingga jumlah rugi-rugi transmisi tinggi.

ANGKA OKTAN BAHAN BAKAR

Bilangan oktan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan. Di dalam mesin, campuran udara dan bensin (dalam bentuk gas) ditekan oleh piston sampai dengan volume yang sangat kecil dan kemudian dibakar oleh percikan api yang dihasilkan busi. Karena besarnya tekanan ini, campuran udara dan bensin juga bisa terbakar secara spontan sebelum percikan api dari busi keluar. Jika campuran gas ini terbakar karena tekanan yang tinggi (dan bukan karena percikan api dari busi), maka akan terjadi knocking atau ketukan di dalam mesin. Knocking ini akan menyebabkan mesin cepat rusak, sehingga sebisa mungkin harus kita hindari.

Nama oktan berasal dari oktana (C8), karena dari seluruh molekul penyusun bensin, oktana yang memiliki sifat kompresi paling bagus. Oktana dapat dikompres sampai volume kecil tanpa mengalami pembakaran spontan, tidak seperti yang terjadi pada heptana, misalnya, yang dapat terbakar spontan meskipun baru ditekan sedikit.

Bensin dengan bilangan oktan 87, berarti bensin tersebut terdiri dari 87% oktana dan 13% heptana (atau campuran molekul lainnya). Bensin ini akan terbakar secara spontan pada angka tingkat kompresi tertentu yang diberikan, sehingga hanya diperuntukkan untuk mesin kendaraan yang memiliki ratio kompresi yang tidak melebihi angka tersebut.

Umumnya skala oktan di dunia adalah Research Octane Number (RON). RON ditentukan dengan mengisi bahan bakar ke dalam mesin uji dengan rasio kompresi variabel dengan kondisi yang teratur.

Beberapa angka oktan untuk bahan bakar:

Angka oktan bisa ditingkatkan dengan menambahkan zat aditif bensin. Menambahkan tetraethyl lead (TEL, Pb(C2H5)4) pada bensin akan meningkatkan bilangan oktan bensin tersebut, sehingga bensin “murah” dapat digunakan dan aman untuk mesin dengan menambahkan timbal ini. Untuk mengubah Pb dari bentuk padat menjadi gas pada bensin yang mengandung TEL dibutuhkan etilen bromida (C2H5Br). Celakanya, lapisan tipis timbal terbentuk pada atmosfer dan membahayakan makhluk hidup, termasuk manusia. Di negara-negara maju, timbal sudah dilarang untuk dipakai sebagai bahan campuran bensin.

Zat tambahan lainnya yang sering dicampurkan ke dalam bensin adalah MTBE (methyl tertiary butyl ether, C5H11O), yang berasal dan dibuat dari etanol. MTBE murni berbilangan setara oktan 118. Selain dapat meningkatkan bilangan oktan, MTBE juga dapat menambahkan oksigen pada campuran gas di dalam mesin, sehingga akan mengurangi pembakaran tidak sempurna bensin yang menghasilkan gas CO. Belakangan diketahui bahwa MTBE ini juga berbahaya bagi lingkungan karena mempunyai sifat karsinogenik dan mudah bercampur dengan air, sehingga jika terjadi kebocoran pada tempat-tempat penampungan bensin (misalnya di pompa bensin) MTBE masuk ke air tanah bisa mencemari sumur dan sumber-sumber air minum lainnya.

Etanol yang berbilangan oktan 123 juga digunakan sebagai campuran. Etanol lebih unggul dari TEL dan MTBE karena tidak mencemari udara dengan timbal. Selain itu, etanol mudah diperoleh dari fermentasi tumbuh-tumbuhan sehingga bahan baku untuk pembuatannya cukup melimpah. Etanol semakin sering dipergunakan sebagai komponen bahan bakar setelah harga minyak bumi semakin meningkat. (sumber :Wikipedia)

MIKROHIDRO 15 kVA

Memanfaatkan sungai Petani yang mengalir di desa Sikeben Sibolangit, dapat memutar turbin “cross-flow” dan menggerakkan generator listrik dengan keluaran daya 15 kW atau disebut Pembangkit Listrik Tenaga Lau (Bahasa karo : Lau = sungai).

Kami mengubah air sungai menjadi listrik, demikian penduduk desa Sikeben yang diwakili bapak R. sembiring dan Pak Abdi Tarigan. Pembangkit Listrik Tenaga Lau (Lau = sungai) dapat diaktipkan kembali setelah mengalami kerusakan roda turbin.

Penduduk bekerjasama dengan Politeknik Negeri Medan telah berhasil mengoperasikan kembali PLTA-Mikrohidro yang sudah rusak dan telah berhenti beberapa bulan. Selesai Tarigan (Pak Abdi) dan Efendi Barus sudah sangat mahir melakukan pemasangan PLTA. Tim dari Politeknik dipimpin oleh Ir. Roket Angkasa Bangun, MT selaku ketua Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dan peran mahasiswa Program Studi Teknik Konversi Energi Politeknik Negeri Medan yang sedang melaksanakan proyek Tugas Akhir (TA) juga sangat membantu dalam pemasangan dan pengoperasian ini. Proyek TA ini dibimbing oleh Ir. Rufinus Nainggolan, selaku dosen mata kuliah dengan subyek Power Plant. Mahasiswa dimotori oleh Yunus Daeli, Yuda Sebayang, dan Walter Jackson Sianturi. Mereka ini rela menginap di rumah turbin pada lembah yang disekitari rimbunnya pohon, bambu dan semak belukar demi beroperasinya kembali PLTA. Jarak terdekat PLTA dengan rumah penduduk sekitar 300 m dan berada 25 m di bawah sisi kiri jalan menuju desa Sikeben dari Bandar Baru Sibolangit. Jarak instalasi beban terjauh 2 km dari PLTA.

 Sekarang ini sejumlah 40 kk  penduduk  desa Sikeben Sibolangit telah dapat kembali memanfaatkan tenaga listrik dari PLTA-Mikrohidro ini untuk keperluan rumah tangga.

PLTA-Mikrohidro ini selain biaya murah, adalah juga disebut “Energi Putih” karena non-effect atau tidak menghasilkan polusi lingkungan.  Iuran penduduk hanyalah Rp. 10.000,- per kk. Tim mengusulkan untuk mendirikan Koperasi sehingga ada biaya cadangan untuk maintenance PLTA-Mikrohidro.

Kapasitas laju aliran air ( debit ) ialah 255 liter per detik dan ketinggian air jatuh (head) ialah 9 m. Diameter roda turbin cross-flow ialah 200 mm. Fabrikasi roda turbin yang baru tersebut didasarkan atas bentuk dan ukuran yang benar-benar sama dengan sebelumnya.

Keberhasilan mengoperasikan kembali PLTL atau PLTA-Mikrohidro milik penduduk desa Sikeben Sibolangit SUMUT adalah suatu kebanggaan masyarakat desa tersebut. Mereka sungguh bersyukur dengan keberadaan PLTA ini, terutama atas penjelasan-penjelasan Tim Politeknik yang mengatakan betapa pentingnya pembangkit tersebut.

PLTA-Mikrohidro Gambar Penduduk, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Mahasiswa Prodi Teknik Konversi Energi Politeknik Negeri Medan. Efendi Barus (No. 1 dari kiri) Pak Abdi Tarigan (No.4), Ir.Roket Angkasa Bangun, MT(No.6), Ir. Rufinus Nainggolan(Baju kotak-kotak), dan Yunus Daeli (No. 2)

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.